Selasa, 01 Maret 2011

INJIL MASUK PAPUA


Peringatan Injil Masuk Papua Ke 156 Tahun
Tanggal 5 Februari merupakan hari bersejarah bagi jutaan umat Kristiani di Tanah Papua karena pada tanggal tersebut adalah hari masuknya Pekabaran Injil di Tanah Papua. Injil pertama kali masuk di Pulau Mansinam, Teluk Doreh di Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat, pada 5 Februari 1885 lalu. Injil masuk melalui dua misionaris asal Belanda dan Jerman, yakni Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler.
 Peringatan Injil Masuk Papua yang ke 156 pada sabtu  5 Pebruari 2011 di peringati dengan ibadah syukur di Stadion Mandala Jayapura pukul 08.30 Wit dihadiri oleh ribuan umat Kristen dari berbagai denominasi gereja yang ada di Tanah Papua ini. Acara Ibadah bersama ini juga dimeriahkan dengan berbagai tari-tarian, musik dan paduan suara dari gereja-gereja.
Selain dihadiri oleh umat Kristen di Jayapura, pada acara ibadah syur itu dihadiri  Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu, SH, pejabat-pejabat pemda  Provinsi Papua dan Badan pekerja Am Sinode serta Pendeta-Pendeta dari berbagai denominasi gereja.
Dalam sambutannya Gubernur Provinsi Papua Barnabas Suebu meminta seluruh masyarakat di Tanah Papua untuk tetap menjaga kerukunan hidup antar umat beragama. “ Masyarakat di Tanah Papua ini adalah masyarakat yang majemuk baik suku, agama maupun budaya  oleh sebab itu harus mampu  membina kerukunan hidup antar umat beragama”. ujar Gubernur
 Menurut gubernur, setiap kelompok umat beragama harus senantiasa memahami sejarah Pekabaran Injil dan perkembangan agama-agama di wilayah ini dan atas kesadaran akan sejarah itulah maka mereka pun saling menghargai satu sama lain.
“Kekuatan Injil terbukti dapat mempersatukan berbagai suku dan budaya, sehingga dapat duduk bersama,” tandasnya.
Barnabas Suebu mengatakan, perjalanan sejarah kehidupan masyarakat/umat beragama di Papua tidak memungkiri peristiwa berkaryanya para misionaris (Katolik) dan zending (Protestan) di wilayah ini sejak Papua belum berintegrasi dengan Indonesia.
“Jasa Gereja bagi perkembangan hidup masyarakat asli Papua terukir dengan tinta emas. Sejarah ini tidak boleh dilupakan atau sengaja dilupakan dalam derap pembangunan Tanah Papua,” ujarnya.
Sejarah juga membuktikan bahwa masyarakat asli Papua bersikap menerima dengan ikhlas kehadiran saudara-saudara dari agama lain yang banyak berdatangan dari wilayah lain di Indonesia.
Sikap toleran masyarakat asli Papua yang sebagian besar memeluk agama Nasrani (Katolik dan Protestan) patut dipuji karena di sinilah ditemukan masyarakat dari berbagai suku dan tradisi serta budaya di Indonesia dan di sini pula terdapat kemajemukan hidup beragama.
“Kerja sama dan kerukunan antarumat beragama terpelihara dengan baik. Hal inilah yang memungkinkan Provinsi Papua hingga kini berada dalam situasi yang aman dan damai,” ujar Barnabas Suebu.
Gubernur meminta agar kerukunan dan toleransi hidup antarumat beragama ini harus tetap dipelihara dengan baik apabila semua komponen bangsa Indonesia masih menginginkan Papua tetap dalam bingkai NKRI.
Itu berarti, semua kebijakan pembangunan, keputusan politik apapun yang diambil untuk masyarakat Papua oleh pemerintah harus tetap memperhatikan sejarah masuknya agama-agama, tradisi dan kebudayaan masyarakat asli Papua, keberpihakan terhadap masyarakat asli Papua, pemberdayaan masyarakat asli Papua dan penciptaan kemandirian di kalangan orang asli Papua.
Sementara itu Pdt Hiskia Rollo, Sekretaris Am Sinode mengatakan, peristiwa Pekabaran Injil masuk tanah Papua yang dibawa dua penginjil Ottow dan Geisseler pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam, telah menjadi tonggak sejarah masyarakat Papua dalam hal pengabaran Injil.
“Masyarakat Papua harus bersyukur atas kehadiran kedua penginjil yang telah menyebarkan ajaran Yesus Kristus kepada masyarakat di tanah Papua, karena merekalah masyarakat Papua boleh mengenal sang Juruselamat yaitu Yesus Kristus,” katanya.***
  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar